Rabu, 22 Juni 2016

What is 'compact city'?


Dalam postingan kali ini saya akan membahas sekilas tentang compact city. Why compact city? Karena tugas akhir saya ini berkaitan dengan compact city yaitu "Pengaruh Urban Compactness Terhadap Transformasi Spasial di Wilayah Peri Urban Kota Yogyakarta" dan kebetulan juga pekerjaan saya pada tahun ini juga masih berhubungan dengan compact city. Saya ingin sekali berbagi tentang apa yang saya dapatkan dalam penelitian saya, tetapi sebelumnya mungkin saya akan berbagi sedikit pengetahuan saya dan memperkenalkan terlebih dahulu apa itu compact city, karena mungkin belum semua orang memahami apa yang dimaksud dengan kota yang 'kompak'.

Istilah compact city sendiri mulai diperkenalkan pada tahun 1973 oleh seorang matematikawan yaitu George Dantzig dan Thomas L yang berkeinginan untuk mengefisiensi sumberdaya. Compact city juga seringkali dikaitkan dengan Jane Jacobs dan bukunya berjudul The Death and Life of Great American Cities (1961) sebagai bentuk kritik terhadap fenomena urban sprawl yang dianggap merugikan perkembangan sebuah kota. Apabila urban sprawl merupakan bentuk ekstensifikasi kota yang cenderung acak dan tidak terkendali, sebaliknya compact city menitikberatkan pada intensifikasi suatu kota. Sehingga beberapa para ahli berpendapat bahwa compact city merupakan salah satu model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Berikut saya rangkum beberapa definsi compact city menurut para ahli.

Jenks (2000)
Compact city adalah strategi pengembangan kota dengan meningkatkan intensitas kawasan terbangun dan densitas penduduk perumahan, mengintensifkan kegiatan ekonomi perkotaan, aktivitas sosial dan budaya dan merekayasa ukuran kota, bentuk dan struktur kota, serta sistem permukiman yang bertujuan untuk mencapai manfaat keberlanjutan lingkungan, sosial, dan global, yang didapatkan sebagai hasil dari pemusatan fungsi-fungsi perkotaan. 
Burton (2000)
Compact city merupakan suatu konsep yang mengakomodasi kepadatan yang tinggi (high density), penggunaan campuran (mixed use), efisiensi sistem transportasi umum, dan upaya mendorong masyarakat untuk berjalan kaki dan bersepeda.
Arbury dalam Mungkasa (2012)
Compact city merupakan model pengembangan kota yang terfokus pada intensifikasi perkotaan, menetapkan batas pertumbuhan kota, mendorong pengembangan campuran (mixed use), dan mengedapankan peran angkutan umum dan kualitas desain perkotaan. 
Roychansyah (2006)
Compact city sebagai strategi kebijakan kota yang sejalan dengan usaha perujudan pembangunan berkelanjutan untuk mencapai sebuah sinergi antara kepadatan penduduk kota yang lebih tinggi pada sebuah ukuran ideal sebuah kota, pengkonsentrasian semua kegiatan kota, intensifikasi transport publik, perujudan kesejahteraan sosial-ekonomi warga kota menuju peningkatan taraf dan kualitas hidup kota.

  
Tabel 1. Perbandingan Pembangunan Acak dan Strategi Compact city
 Aspek
Pembangunan Acak
(Sprawl Development)
Strategi Compact city
(Anti-Sprawl Development)
Kepadatan
Kepadatan rendah
Kepadatan tinggi
Pola pertumbuhan
Pembangunan pada peri-peri kota, ruang dan ruang hijau, melebar
Pembangunan pada ruang-ruang sisa/antara, compact
Guna lahan
Homogen, terpisah-pisah
Mixed”, cenderung menyatu
Skala
Skala besar (bangunan yang lebih besar, blok, jalan lebar), kurang detil, artikulasi bagi pengendara mobil
Skala manusia kaya dengan detil, artikulasi bagi pejalan kaki
Layanan komunitas
Shopping mall, perjalanan mobil, jauh, sukar untuk ditemukan
Main street, jalan kaki, semua fasilitas mudah ditemukan
Tipe komunitas
Perbedaan rendah, hubungan antar anggota lemah, hilangnya ciri komunitas
Perbedaan tinggi dengan hubungan yang erat, karakter komunitas tetap terpelihara
Transportasi
Transportasi yang berorientasi pada kendaraan pribadi, kurang penghargaan pada pejalan kaki, sepeda, dan transit
Transportasi multi-sarana, penghargaan pada pejalan kaki, sepeda, dan transit publik
Disain jalan
Jalan didisain untuk memaksimalkan volume kendaraan dan kecepatannya (collector roads, cul de sac)
Jalan didisain untuk mengakomodasikan berbagai macam kegiatan (traffic calming, grid streets)
Disain bangunan
Bangunan jauh terletak/ditarik ke belakang (set back), rumah tunggal yang terpencar
Bangunan sangat dekat dengan jalan, tipe tempat tinggal beragam
Ruang publik
Perujudan kepentingan pribadi (yards, shopping malls, gated communities, private clubs)
Perujudan kepentingan publik (streetscapes, pedestrian, environment, public park and facilities)
Biaya pembangunan
Biaya yang tinggi bagi pembangunan baru dan biaya pelayanan publik rutin
Biaya yang rendah bagi pembangunan baru dan biaya layanan publik rutin
Proses perencanaan
Kurang terencana, hubungan pelaku pembangunan dan aturan lemah
Terencana dan hubungan pelaku pembangunan dan aturan baik (community based)
  (Roychansyah, 2006)



Dari beberapa pendapat para ahli dan pemahaman saya, compact city saya simpulkan sebagai suatu strategi pengintensifikasian kota dengan pembangunan vertikal dan guna lahan campuran, yang didukung dengan transportasi publik yang terintegrasi, dalam suatu ukuran dan akses kota yang ideal demi kesejahteraan penduduk dan keberlanjutan kota. Mengapa kota-kota di Indonesia perlu melirik strategi compact city sebagai konsep pengembangan kotanya? Karena tidak dapat dipungkiri tekanan pembangunan semakin lama semakin tinggi di sisi lain lahan yang dikembangkan semakin terbatas sedangkan masih terdapat banyak lahan produktif dan lahan konservasi yang perlu dilindungi, kondisi ini terlihat terutama di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Sehingga saya rasa strategi compact city ini dapat menjadi jawaban dari tantangan tersebut. Akan tetapi tentunya tidak dapat serta merta langsung mengambil konsep compact city dari luar negeri secara mentah, tentunya perlu pengadaptasian kembali sesuai karakteristik perkotaan di Indonesia.


Gambar 1. Compact City di Curitiba, Brazil

Dalam definisi yang saya sebutkan sebelumnya, terdapat beberapa kata kunci, yaitu: pembangunan vertikal; guna lahan campuran; transportasi publik; ukuran ideal kota, berikut akan saya akan bahas satu-persatu kata kuncinya agar lebih jelas sebagai berikut.

Yang pertama, compact city sering diidentikkan dengan pembangunan vertikal. Pembangunan vertikal merupakan suatu bentuk efisiensi penggunaan lahan, sehingga dalam ruang yang terbatas dapat menampung banyak penduduk dan berbagai kegiatan. Pembangunan perumahan secara horizontal atau seperti pada umumnya tentunya akan memakan banyak ruang, hal ini akan berbeda apabila kita membangunan secara vertikal keatas, sehingga akan lebih ‘menghemat’ ruang, dan ruang yang tersisa dapat kita manfaatkan sebagai ruang hijau ataupun fasilitas perkotaan lainnya. Namun perlu diingat bahwa dalam membangun bangunan vertikal harus memperhatikan pula konsep hemat energi dan ramah lingkungan untuk mengurangi efek urban heat island yang kini menjadi isu yang cukup banyak diperbincangkan. Selain itu kultur masyarakat kita yang terbiasa tinggal di single house juga perlu diperhatikan. Merubah kebiasaan masyarakat dari yang biasa tinggal di single house ke vertical building tidaklah mudah. Dalam suatu diskusi yang pernah saya ikuti, Bapak Bintang Nugroho dari Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI) menyatakan bahwa di Jepang memerlukan waktu empat tahun untuk membiasakan warganya tinggal di bangunan empat lantai.  


Gambar 2. Compact City di Tokyo, Jepang


Lalu apakah dengan membangun gedung bertingkat,  apartemen atau superblock sudah mewujudkan suatu kota yang kompak? Menurut saya belum tentu, tentunya perlu juga merancang suatu pola ruang yang baik dalam suatu sistem kota dan mengintensifkan pembangunan di pusat kota untuk menghindarkan lahan-lahan di hinterland yang pada umumnya juga masih memiliki fungsi pertanian atau ekologis. Dapat dilihat di sekitar kita, mungkin dapat kita jumpai beberapa pengembang yang membangun apartemen atau superblock di kawasan pinggiran. Apabila hal tersebut tidak diintervensi dan disikapi secara bijak dikhawatirkan dapat memicu urban sprawl, karena dimana terdapat pembangunan baru di suatu kawasan tentunya akan membutuhkan infrastruktur penunjang dan pada akhirnya akan memicu perkembangan di sekitarnya juga. 

Selanjutnya kata kunci kedua, yaitu mixed use. Pembangunan secara vertikal tentunya akan lebih optimal apabila dikombinasikan juga dengan guna lahan campuran (mixed use). Mengapa mixed use? Ya, untuk efisiensi. Mixed use development merupakan pengembangan produk properti seperti perkantoran, komersil, hotel dan tempat tinggal yang disatukan dalam satu bangunan. Dengan terbatasnya lahan di kota, maka mixed use membuat penggunaan lahan lebih optimal, kegiatan di kota akan lebih terkonsentrasi, tidak terlalu banyak mobilisasi karena mudah dalam mengakses tempat tertentu, selain itu penyediaan fasilitas dan infrastruktur juga akan lebih efisien karena terpusat dalam satu kawasan. Mixed use development ini sendiri telah banyak dikembangkan oleh pengembang di kota-kota besar di Indonesia dalam bentuk superblock atau apartemen/hotel, perkantoran dan komersil dalam satu bangunan vertikal. Dengan adanya efisiensi-efisiensi tersebut merupakan suatu bentuk upaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).


Gambar 3. Bangunan-Bangunan Mixed Use

Kata kunci ketiga yaitu transportasi publik. Dalam compact city, penggunaan transportasi publik sangat didorong, selain itu juga sangat menghargai pejalan kaki dan pesepeda. Intensifikasi transportasi publik ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sehingga akan tercapai efisiensi energi dan mengurangi kemacetan kota. Agar masyarakat mau menggunakan transportasi publik, tentunya diperlukan penyediaan transportasi publik multi moda yang memadai dan mencakup seluruh wilayah kota, sehingga masyarakat dapat dengan mudah menemukan berbagai pilihan transportasi publik sesuai tujuan perjalanannya. Demikian pula dengan mendorong masyarakat untuk berjalan kaki atau bersepeda, tentunya membutuhkan strategi khusus, yaitu melalui desain kota yang baik yang mewadahi kepentingan para pejalan kaki dan pesepeda, misal dengan desain pedestrian way yang nyaman dan teduh serta penyediaan jalur khusus pesepeda. 


 
Gambar 4. Inefisiensi Energi dan Ruang dalam Pemakaian Kendaraan Pribadi

Gambar 5. Pejalan Kaki di Shibuya Shopping District di Tokyo, Jepang


Kata kunci terakhir adalah ukuran dan akses kota yang ideal. Yang dimaksud dengan ukuran ideal kota disini adalah bahwa dalam suatu kota, masyarakat di dalamnya dapat mengakses pusat-pusat kegiatan dan fasilitas kota secara mudah baik dengan berjalan kaki, bersepeda ataupun dengan transportasi publik sehingga masyarakat dapat memenuhi seluruh kebutuhannya baik itu berbelanja, bekerja, sekolah, dll di dalam kota tersebut. Dengan demikian maka dapat mengurangi pergerakan keluar kota dan mencegah terjadinya urban sprawl atau perembetan sifat fisik kekotaan ke arah luar kota/peri-peri.

Kembali lagi pada tujuan dasar kota adalah untuk melayani masyarakat yang tinggal di dalamnya. Dengan penerapan compact city maka diharapkan masyarakat dapat terlayani dengan baik dan tercipta keberlanjutan bagi kota itu sendiri baik secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, karena ide compact city pada awalnya lahir sebagai jawaban dari fenomena-fenomena pembangunan yang mengarah pada ketidakberlanjutan. Tentunya masih banyak lagi hal-hal yang dapat dibahas terkait compact city ini, insyaAllah akan dibahas pada postingan selanjutnya karena dalam postingan ini tujuan saya ingin memperkenalkan terlebih dahulu ‘what is compact city?’ karena mungkin masih banyak orang yang belum mengerti yang dimaksud dengan compact city atau belum mengerti definisi kompak yang dimaksud dalam hal apa. Semoga postingan saya kali ini bermanfaat bagi para reader sekalian. Selamat beraktifitas!



Sumber Gambar:
Gambar 1:
https://4feet2mouths.com/tag/curitiba/
Gambar 2:
http://www.eatstaylive.com/countries/japan/
Gambar 3:
http://cooltownstudios.com/2009/11/05/19-urban-development-types-for-creatives/
Gambar 4:
Paparan Bintang Nugroho “Penerapan Konsep Green Building Dalam Upaya Perwujudan Pembangunan Vertikal yang Ramah Lingkungan di Kawasan Perumahan” (Denpasar, 20 Mei 2016)
Gambar 5:
https://www.andrewharper.com/itinerary/tokyo-kyoto-japan/





Tidak ada komentar:

Posting Komentar