Kamis, 23 Juni 2016

Belajar Compact City dari Luar Negeri


Pada postingan sebelumnya saya telah menjelaskan apa itu compact city, dan postingan kali merupakan kelanjutan dari postingan tersebut. Disini saya akan memberikan beberapa contoh penerapannya di luar negeri.  Konsep compact city  berasal dari negara-negara di Eropa dan mulai mendapatkan banyak perhatian banyak  kalangan pada tahun 1980an. Model compact city bukanlah suatu hal yang baru karena merupakan tipikal bentuk kota lama di Eropa yang memiliki prinsip (i) menekankan kota dan lansekap; (ii) menambah kan pembangunan pada daerah eksisting; (iii) mengkombinasikan fungsi yang ada; (iv) menyebarkan fasilitas untuk mengurangi bangkitan lalulintas; (v) kepadatan tinggi; (vi) menekankan transportasi publik (Mungkasa, 2012).

Strategi compact city  merupakan salah satu bentuk pembangunan yang berkelanjutan yang memiliki potensi untuk mengurangi ecological foot print, oleh karena itu konsep ini telah banyak digunakan oleh kota di negara-negara maju. Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Belanda merupakan pelopor dari compact city, sedangkan Australia dan Jepang adalah negara yang saat ini tengah intensif dalam menerapkan kebijakan compact city dalam perencanaan kotanya (Roychansyah, 2006). Kota-kota di negara berkembang juga telah banyak yang mengadopsi konsep ini, seperti Dhaka, Delhi, Bangkok, Teheran, Kairo, Cape Town, Hongkong, dan Taiwan mulai mengadopsi konsep compact city pada satu dekade terakhir ini (Jenks, dkk, 2000). Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan compact city di luar negeri.

Gambar 1. London Skyline
Urban Renaissance di Inggris

Pemerintah Inggris menerapkan konsep compact city sebagai bagian dari ide dasar dalam kebijakan perencanaan kotanya dibawah program bertajuk “Urban Renaissance” atau pembangunan kembali kota yang berlaku sejak awal tahun 1990-an hampir bersamaan dengan Belanda (Urban Task Force, 2000 dalam Roychansyah, 2006). Urban Task Force di bawah pimpinan arsitek terkenal Richard Rogers, pada tahun 1998 dibentuk untuk mengkonsepkan beberapa strategi dan mensosialisasikannya secara nasional dimana harapannya hasil dari strategi tersebut dapat terlihat setelah 25 hingga 30 tahun kemudian. Masalah depopulasi yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kolapnya kota-kota di Inggris apabila terus berlanjut menjadi penyebab yang melatarbelakangi program ini.

Pada dasarnya memberdayakan komunitas lokal (local community based program) yang mampu membangun komunitasnya secara atraktif (attractive community) dalam sebuah lingkungan yang terjaga dan berkelanjutan (well kept sustainable way) dan memiliki layanan lingkungan yang baik (good quality service) dengan seluruh potensi yang dimilki untuk kesejahteraan bersama (prosperity sharing) merupakan visi dasar dari program ini. Hal tersebut juga merupakan salah satu strategi untuk menarik penduduk untuk kembali tinggal di dalam kota (Roychansyah, 2006).


Gambar 2. New York Skyline

Smart Growth di Amerika

Di Amerika model ini dikenal dengan Smart Growth  yang memiliki 10 prinsip dasar, yaitu (i) guna lahan campuran; (ii) memanfaatkan kelebihan desain bangunan yang kompak (compact building); (iii) menciptakan beragam pilihan jenis rumah berdasar tipe rumah tangga; (iv) menciptakan lingkungan yang terjangkau dengan berjalan kaki; (v) mendorong dan memelihara komunitas khas dan menarik; (vi) menjaga ruang terbuka, lahan pertanian, bangunan bersejarah, daerah kritis; (vii) melakukan investasi kembali dan memperkuat komunitas eksisting dan mencapai pembangunan wilayah yang lebih seimbang; (vii) menyediakan beragam pilihan sarana transportasi; (ix) menyusun keputusan pembangunan yang dapat diperkirakan, adil, dan berhasil guna; (x) mendorong keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan pembangunan (Mungkasa, 2012).

Upaya-upaya untuk mengatasi fenomena urban sprawl  menjadi agenda utama kebijakam pengembangan kota karena dampak pola ruang yang sprawl disebutkan sebagai “scattered development that increases traffic, resources inefficiency, unplanned, missguided of public policy, aesthetically displeasing, and has adverse effects on environmental  quality (Handy, 2005 dalam Kusumantoro, 2007).

Gambar 3. Tokyo Skyline

Urban Redevelopment di Jepang

Sedangkan di Jepang juga terdapat program sejenis yaitu Urban Redevelopment yang mulai menjadi patokan pembangunan berwawasan lingkungan  yang dijalankan melalui pembangunan kembali di pusat kota. Berbeda dengan Inggris yang penerapan programnya bersifat nasional, di Jepang program ini bersifat kuasi-nasional dengan implementasi model penerapan yang beragam di tiap kotanya (Roycahnsyah, 2006). Kota Aomori, Kota Fukui dan Kota Sendai menerapkan compact city melalui penerapan Transit Oriented Development (TOD) dimana pembangunan diintensifkan pada jalur-jalur transportasi umum saja serta pengoptimalan transportasi umum. Untuk kota berukuran menengah dan besar, pembangunan apartemen dan kondominium diprioritaskan di daerah-daerah Central Business District (CBD). beberapa kota lama dihidupkan kembali dengan program urban revitalization atau urban redevelopment. Program-program ini terlihat sangat positif di Jepang karena terminologi compact city ini menjadi pengetahuan umum di tingkat lokal wilayah melalui sistem perencanaan berbasis komunitas. Hal ini jugalah yang menyebabkan tingginya kesadaran akan kehidupan yang lebih baik dan dukungan aktif terhadap kebijakan pemerintah (Roychansyah, 2006).


Gambar 4. Hongkong Skyline

 Penerapan Model Compact City di Hongkong

Hongkong juga merupakan contoh kota di Asia yang cukup berhasil menerapkan konsep compact city. Hongkong memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, akan tetapi Hongkong memiliki sistem transportasi publik yang baik dan dipermudah dalam mewujudkan konsep compact city karena didukung pula dengan ekonomi yang kuat dan pemerintah tegas. Bentuk kota yang kompak di Hongkong terjadi karena kondisi topografi Hongkong sendiri. Dari total luas 1.096 km2,  hanya  17% nya saja yang dapat dibangun secara intensif, hal ini karena kondisi topografi Hongkong yang berbukit-bukit, sehingga pembangunan dengan kepadatan yang tinggi menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi kebutuhan perumahan dan pembangunan lainnya (Jenks, dkk, 2000).

Dalam beberapa gambar city skyline yang saya tampilkan sebelumnya, nampak sekali skycraper building mendominasi. Pembangunan diintensifkan keatas sebagai bentuk efisiensi terhadap ruang, agar pembangunan tidak melebar kesamping untuk mencegah terjadinya urban sprawling, dan menyisakan lahan untuk green space dan public space. Selain itu melalui pembangunan vertikal, dengan lahan terbataspun dapat menampung banyak penduduk dan berbagai kegiatan di dalamnya. Berikut ini akan saya tampilkan ilustrasi perbandingan antara Atlanta dan Barcelona. 


Gambar 5. Perbandingan Built up-Area Atlanta dan Barcelona
 


Pada tahun 1990, dengan perkembangan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa memakan 4280 km2 built-up area untuk menampung seluruh penduduk dan segala kegiatan di dalamnya. Bandingkan dengan Barcelona yang hanya memiliki luas built-up area 162 km2, dapat menampung 2,8 juta jiwa. Dapat kita lihat bahwa luas built-up area Barcelona yang hanya 3,78% dari Atlanta dapat menampung jumlah penduduk 10,71% lebih banyak. Ya, itulah salah satu benefit dari penerapan compact city. Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, tuntutan pengembangan kota yang semakin besar, dan lahan yang semakin terbatas, mau tidak mau pembangunan secara vertikal menjadi solusinya, karena tentunya kita masih ingin melindungi lahan-lahan sawah produktif dan hutan untuk keberlanjutan hidup anak cucu kita.




Sumber Gambar:
Gambar 1: http://www.beingbrunel.com/london-skyline/ 
Gambar 2: http://matadornetwork.com/trips/40-worlds-impressive-skylines/
Gambar 3: http://www.world-wallpaper.com/wallpaper/tokyo-skyline-2560x1440_w2016.html
Gambar 4: http://matadornetwork.com/trips/40-worlds-impressive-skylines/
Gambar 5: Paparan M. Sani Roychansyah, ST, M.Eng, D.Eng "Konsep Kota Kompak dan Kondisi Perkotaan Jawa-Bali" (Jakarta, 20 April 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar