Pada postingan sebelumnya saya telah
menjelaskan apa itu compact
city, dan postingan kali merupakan kelanjutan dari postingan tersebut.
Disini saya akan memberikan beberapa contoh penerapannya di luar negeri. Konsep
compact city berasal
dari negara-negara di Eropa dan mulai mendapatkan banyak perhatian banyak
kalangan pada tahun 1980an. Model compact city bukanlah
suatu hal yang baru karena merupakan tipikal bentuk kota lama di Eropa yang
memiliki prinsip (i) menekankan kota dan lansekap; (ii) menambah kan
pembangunan pada daerah eksisting; (iii) mengkombinasikan fungsi yang ada; (iv)
menyebarkan fasilitas untuk mengurangi bangkitan lalulintas; (v) kepadatan
tinggi; (vi) menekankan transportasi publik (Mungkasa, 2012).
Strategi compact city merupakan
salah satu bentuk pembangunan yang berkelanjutan yang memiliki potensi untuk
mengurangi ecological
foot print, oleh karena itu konsep ini telah banyak digunakan oleh kota di
negara-negara maju. Amerika Serikat, Eropa, Inggris dan Belanda merupakan
pelopor dari compact
city, sedangkan Australia dan Jepang adalah negara yang saat ini tengah
intensif dalam menerapkan kebijakan compact city
dalam perencanaan kotanya (Roychansyah, 2006). Kota-kota di negara berkembang
juga telah banyak yang mengadopsi konsep ini, seperti Dhaka, Delhi, Bangkok,
Teheran, Kairo, Cape Town, Hongkong, dan Taiwan mulai mengadopsi konsep compact city pada
satu dekade terakhir ini (Jenks, dkk, 2000). Berikut ini adalah beberapa
contoh penerapan compact city di luar negeri.
![]() |
| Gambar 1. London Skyline |
Urban
Renaissance di Inggris
Pemerintah Inggris menerapkan konsep compact city
sebagai bagian dari ide dasar dalam kebijakan perencanaan kotanya dibawah
program bertajuk “Urban
Renaissance” atau pembangunan kembali kota yang berlaku sejak awal tahun
1990-an hampir bersamaan dengan Belanda (Urban Task Force, 2000
dalam Roychansyah, 2006). Urban Task Force
di bawah pimpinan arsitek terkenal Richard Rogers, pada tahun 1998 dibentuk
untuk mengkonsepkan beberapa strategi dan mensosialisasikannya secara nasional
dimana harapannya hasil dari strategi tersebut dapat terlihat setelah 25 hingga
30 tahun kemudian. Masalah depopulasi yang dikhawatirkan akan mengakibatkan
kolapnya kota-kota di Inggris apabila terus berlanjut menjadi penyebab yang
melatarbelakangi program ini.
Pada dasarnya memberdayakan komunitas lokal (local community based
program) yang mampu membangun komunitasnya secara atraktif (attractive community)
dalam sebuah lingkungan yang terjaga dan berkelanjutan (well kept sustainable
way) dan memiliki layanan lingkungan yang baik (good quality service)
dengan seluruh potensi yang dimilki untuk kesejahteraan bersama (prosperity sharing)
merupakan visi dasar dari program ini. Hal tersebut juga merupakan salah satu
strategi untuk menarik penduduk untuk kembali tinggal di dalam kota
(Roychansyah, 2006).
![]() |
| Gambar 2. New York Skyline |
Smart
Growth di Amerika
Di Amerika model ini dikenal dengan Smart Growth yang
memiliki 10 prinsip dasar, yaitu (i) guna lahan campuran; (ii) memanfaatkan
kelebihan desain bangunan yang kompak (compact building);
(iii) menciptakan beragam pilihan jenis rumah berdasar tipe rumah tangga; (iv)
menciptakan lingkungan yang terjangkau dengan berjalan kaki; (v) mendorong dan
memelihara komunitas khas dan menarik; (vi) menjaga ruang terbuka, lahan
pertanian, bangunan bersejarah, daerah kritis; (vii) melakukan investasi
kembali dan memperkuat komunitas eksisting dan mencapai pembangunan wilayah
yang lebih seimbang; (vii) menyediakan beragam pilihan sarana transportasi;
(ix) menyusun keputusan pembangunan yang dapat diperkirakan, adil, dan berhasil
guna; (x) mendorong keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam
pengambilan keputusan pembangunan (Mungkasa, 2012).
Upaya-upaya untuk mengatasi fenomena urban sprawl menjadi
agenda utama kebijakam pengembangan kota karena dampak pola ruang yang sprawl disebutkan
sebagai “scattered
development that increases traffic, resources inefficiency, unplanned,
missguided of public policy, aesthetically displeasing, and has adverse effects
on environmental quality (Handy, 2005 dalam Kusumantoro, 2007).
![]() |
| Gambar 3. Tokyo Skyline |
Urban
Redevelopment di Jepang
Sedangkan di Jepang juga terdapat
program sejenis yaitu Urban Redevelopment
yang mulai menjadi patokan pembangunan berwawasan lingkungan yang
dijalankan melalui pembangunan kembali di pusat kota. Berbeda dengan Inggris
yang penerapan programnya bersifat nasional, di Jepang program ini bersifat
kuasi-nasional dengan implementasi model penerapan yang beragam di tiap kotanya
(Roycahnsyah, 2006). Kota Aomori, Kota Fukui dan Kota Sendai menerapkan compact city
melalui penerapan Transit
Oriented Development (TOD) dimana pembangunan diintensifkan pada
jalur-jalur transportasi umum saja serta pengoptimalan transportasi umum. Untuk
kota berukuran menengah dan besar, pembangunan apartemen dan kondominium
diprioritaskan di daerah-daerah Central Business
District (CBD). beberapa kota lama dihidupkan kembali dengan program urban revitalization
atau urban
redevelopment. Program-program ini terlihat sangat positif di Jepang karena
terminologi compact
city ini menjadi pengetahuan umum di tingkat lokal wilayah melalui sistem
perencanaan berbasis komunitas. Hal ini jugalah yang menyebabkan tingginya
kesadaran akan kehidupan yang lebih baik dan dukungan aktif terhadap kebijakan
pemerintah (Roychansyah, 2006).
![]() |
| Gambar 4. Hongkong Skyline |
Penerapan Model Compact City di Hongkong
Hongkong juga merupakan contoh kota di Asia yang cukup berhasil
menerapkan konsep compact
city. Hongkong memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, akan tetapi
Hongkong memiliki sistem transportasi publik yang baik dan dipermudah dalam
mewujudkan konsep compact
city karena didukung pula dengan ekonomi yang kuat dan pemerintah tegas.
Bentuk kota yang kompak di Hongkong terjadi karena kondisi topografi Hongkong
sendiri. Dari total luas 1.096 km2, hanya 17% nya saja
yang dapat dibangun secara intensif, hal ini karena kondisi topografi Hongkong
yang berbukit-bukit, sehingga pembangunan dengan kepadatan yang tinggi menjadi
satu-satunya cara untuk mengatasi kebutuhan perumahan dan pembangunan lainnya
(Jenks, dkk, 2000).
Dalam beberapa gambar city skyline yang
saya tampilkan sebelumnya, nampak sekali skycraper building
mendominasi. Pembangunan diintensifkan keatas sebagai bentuk efisiensi terhadap
ruang, agar pembangunan tidak melebar kesamping untuk mencegah terjadinya urban sprawling,
dan menyisakan lahan untuk green space dan public space.
Selain itu melalui pembangunan vertikal, dengan lahan terbataspun dapat
menampung banyak penduduk dan berbagai kegiatan di dalamnya. Berikut ini akan
saya tampilkan ilustrasi perbandingan antara Atlanta dan Barcelona.
| Gambar 5. Perbandingan Built up-Area Atlanta dan Barcelona |
Pada tahun 1990, dengan perkembangan jumlah penduduk mencapai 2,5
juta jiwa memakan 4280 km2 built-up area
untuk menampung seluruh penduduk dan segala kegiatan di dalamnya. Bandingkan
dengan Barcelona yang hanya memiliki luas built-up area 162
km2, dapat menampung 2,8 juta jiwa. Dapat kita lihat bahwa luas built-up area Barcelona
yang hanya 3,78% dari Atlanta dapat menampung jumlah penduduk 10,71% lebih
banyak. Ya, itulah salah satu benefit dari penerapan compact city.
Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, tuntutan pengembangan kota yang
semakin besar, dan lahan yang semakin terbatas, mau tidak mau pembangunan
secara vertikal menjadi solusinya, karena tentunya kita masih ingin melindungi
lahan-lahan sawah produktif dan hutan untuk keberlanjutan hidup anak cucu kita.
Sumber
Gambar:
Gambar
1: http://www.beingbrunel.com/london-skyline/
Gambar
2: http://matadornetwork.com/trips/40-worlds-impressive-skylines/
Gambar
3: http://www.world-wallpaper.com/wallpaper/tokyo-skyline-2560x1440_w2016.html
Gambar
4: http://matadornetwork.com/trips/40-worlds-impressive-skylines/
Gambar
5: Paparan M. Sani Roychansyah, ST, M.Eng, D.Eng "Konsep Kota Kompak dan
Kondisi Perkotaan Jawa-Bali" (Jakarta, 20 April 2016)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar